Skip to content Skip to menu Skip to search

Berita

Survei LSI Dilawan Professor Dari UI “Semua Capres Sulit Menang Satu Putaran”

Sumber: Rakyat Merdeka, Jum’at 12 Juni 2009
21/06/2009 13:08

Lembaga Survei Indonesia (LSI pimpinan Saiful Mujani) dan Lingkaran Survei Indonesia (LSI pimpinan Denny JA) memprediksi SBY akan memenangi Pilpres 2009 dalam satu putaran.

NAMUN, dua survei itu, seolah dilawan Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik Indonesia (Puskapol) yang dipimpin salah seorang guru besar ilmu politik Universitas Indonesia, Iberamsjah.

Survei yang dilaksanakan pada 1-7 Juni 2009 di 20 provinsi ini, mengindikasikan pilpres berlangsung dua putaran.

Puskapol menggunakan perpaduan antara studi kuantitatif (menggunakan masyarakat sebagai responden) dan kualitatif (mewawancarai sejumlah tokoh masyarakat) untuk mengetahui tingkat keterpilihan (elektibilitas) capres-cawapres.

Untuk studi kuantitatif dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuesioner yang dilakukan terhadap 2,000 responden, dengan teknik multi-stage random sampling (acak bertingkat), dimana margin errornya 4 persen, dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Pada survei dengan studi kuantitatif ini, SBY-Boediono masih menempati posisi teratas dengan perolehan suara 37 persen. Di urutan kedua, nangkring duet Mega-Prabowo dengan keterpilihan 31,5 persen. JK-Wiranto menempati urutan ketiga dengan perolehan suara 26,6 persen. Responden yang tidak menjawab sebesar 4,85 persen.

Sedangkan untuk survei dengan studi kualitatif, dilakukan melalui wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat di 20 provinsi. Dalam setiap provinsi diwawancarai lima tokoh masyarakat. Sehingga, ada 100 wawancara yang dilakukan pada tanggal 1-8 Juni 2009.

“Informan dipilih secara acak dengan metode snowball, dengan kriteria yang mengikuti situasi politik nasional, khususnya mengenai Pilpres 2009,” kata tim penelitian Nayawan Persada dalam jumpa pers di Jakarta, kemarin.

Dari hasil wawancara ini, 39 tokoh masyarakat menginginkan SBY-Boediono menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2009-2014. Mega-Prabowo yang dipilih 32 tokoh, bertengger di urutan kedua. JK-Wiranto yang dipilih 24 tokoh, berada di urutan ketiga. Lima responden belum menentukan pilihan.

Menurut Penanggung Jawab Puskapol Iberamsjah, ada enam faktor yang menyebabkan kekuatan ketiga pasang kandidat hamper seimbang.

Pertama, peta basis kekuatan politik ketiga capres-cawapres relative seimbang. Tidak ada yang menjulang tinggi, tidak ada yang terlalu rendah. Kedua, pencitraan semua capres-cawapres relatif sama. Ketiga, solidaritas partai koalisi capres-cawapres relatif sama.

Keempat, masyarakat sekarang semakin cerdas. Artinya, sudah sangat kritis dalam mencerna isu yang beredar. “Kebohongan public cenderung sulit dilakukan ketiga capres-cawapres. Masyarakat sudah pintar, jadi gak bisa dikibulin,” tandas Iberamsjah.

Kelima, pesona ketiga pasang capres-cawapres relative seimbang. Keenam, elektabilitas SBY cenderung menurun karena banyaknya kontroversi di kalangan tim suksesnya.

Contoh kontroversi itu adalah pernyataan fungsionaris Demokrat Ruhut Sitompul, bahwa Arab tidak pernah membantu Indonesia, sehingga manyulut keterasingan keturunan Arab.

Lantaran itu, Iberamsjah menambahkan, “Sulit bagi semua capres untuk menang dalam satu putaran. Tapi, dalam politik, tidak ada yang tidak mungkin. Satu atau dua putaran, semua ada kemungkinan.