Skip to content Skip to menu Skip to search

Berita

Lembaga Survei Saling Bersaing

Sumber: IndoPos-Jawa Pos versi Jakarta, Jum’at 12 Juni 2009
22/06/2009 09:21

Yakinkan Satu Putaran Atau Dua Putaran

JAKARTA- Perang antar lembaga survei masih berlangsung. Setidaknya, kemarin dua lembaga berbeda telah mengumumkan hasil yang berbeda pula. Ada yang memenangkan pasangan SBY-Boediono dengan angka mutlak. Namun ada pula yang hanya memenangkan dengan selisih tak begitu besar dibanding dua pasangan lainnya.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA yang memenangkan duet SBY-Boediono dengan angka signifikan. Menurut survei mereka, elektabilitas pasangan tersebut mencapai 63,1 persen. Bandingkan dengan pasangan Mega-Prabowo dan JK-Wiranto, yang masing-masing hanya memiliki elektabilitas 16,4 persen dan 5,9 persen.

“Keunggulan (SBY-Boediono, Red) sangat dominan,” ujar Direktur Riset LSI Arman Salam, saat merilis hasil surveinya, di Café Pisa, Jakarta, kemarin (11/6). Di dalam hasil mereka juga disebutkan, responden yang belum menentukan pilihan masih sebanyak 14,6 persen.

Tak cukup di situ, LSI pimpinan Denny JA tersebut bahkan berani memprediksi pilpres berpotensi sangat besar hanya akan berlangsung satu putaran. Dengan catatan, tak ada kejadian yang sangat luar biasa muncul dalam sisa waktu hingga hari-H pemilihan nanti. “Kredibilitas lembaga kami taruhannya,” tegasnya, sambil mengungkap sejumlah capaian LSI selama ini.

Sigi yang dilakukan LSI Denny JA tersebut dilaksanakan di 33 provinsi pada 28 Mei-3 Juni 2009. Melibatkan 4 ribu responden yang dipilih dengan multistage random sampling, hasil risetnya memiliki margin of error sekitar 2,4 persen dengan tingkat kepercayaan 99 persen.

Mereka mengakui secara terbuka kalau sebelumnya sempat melakukan survei lain yang dibiayai oleh SBY-Boediono. Namun, hasil sigi yang juga seputar pilpres itu tidak diumumkan ke public. “Yang kami umumkan saat ini murni kami biayai sendiri, diambil dari sebagian profit yang didapat,” ungkap Arman.

Di bagian lain hasil survey LSI, ada beberapa hal yang menyebabkan keunggulan telak SBY-Boediono. Yaitu, personality figur SBY yang tidak hanya sangat dikenal (99 persen), tapi juga sangat disukai (89,6 persen) dan dianggap pantas menjadi pemimpin nasional (90,1 persen). “Kondisi itu berbeda dengan figur capres lainnya,” ujar Arman.

Megawati meski juga sangat dikenal (98,3 persen), namun bukan termasuk tokoh yang sangat disukai (59 persen) dan bukan pula termasuk pemimpin yang sangat dianggap pantas (55,7 persen). Kondisi yang sama juga terjadi pada Jusuf Kalla. Meski sangat dikenal (95,1 persen), capres dari Partai Golkar itu hanya memiliki tingkat kesukaan (57,2 persen) dan tingkat kepantasan menjadi pemimpin nasional (50 persen). “Persepsi publik atas kinerja SBY, secara umum, masyarakat puas,” pungkasnya.

Sementara itu, ditempat terpisah, Pusat Kajian Strategi Pembangunan Sosial Politik Indonesia melansir hasil survei yang berbeda. Meski masih unggul, SBY-Boediono hanya mendapat dukungan 37,05 persen. Sedangkan, pasangan Mega-Prabowo membayangi dengan 31,5 persen dan duet Jusuf Kalla-Wiranto 26,6 persen. Responden yang menyatakan belum memiliki pilihan/tidak tahu sebanyak4,85 persen.

Lembaga yang dipimpin dosen UI Iberamsjah itu juga memprediksi, kalau pilpres akan sulit terjadi satu putaran. “Lebih realistis dua putaran,” ujarnya dalam pemaparan, di Hotel Atlet Century, Jakarta , kemarin.

Survei PKSPSPI itu dilakukan di 20 provinsi pada 1 Juni-7 Juni 2009 lalu. Responden yang dilibatkan sebanyak 2 ribu yang dipilih dengan multi-stage random sampling. Hasil survei itu memiliki margin of error sebesar 4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Sementara Ketu Dewan Pertimbangan Pusat PDI Perjuangan Taufik Kiemas masih yakin pilpres akan tetap berlangsung dua putaran. “Kalau saya percaya yang dua putaran,” ujar Kiemas, usai mengahadiri Muspimnas PKB Gusdur, di Hotel Acacia, Jakarta, kemarin (11/6). Menurut dia, sebenarnya terlalu dini kalau sejumlah lembaga berani memastikan pilpres akan berlangsung satu putaran atau dua putaran. “Harusnya rakyat yang menentukan, bukan lembaga survei,” sindirnya.