Skip to content Skip to menu Skip to search

Kajian Bulanan

Kajian Bulanan Edisi 05, September 2007

Golput Dalam Pilkada

26/09/2007 15:14

Kajian Bulanan Edisi 05, September  2007
Kajian Bulanan Edisi 05, September 2007

Pilkada ditandai dengan tingginya angka pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya---sering disebut sebagai golput. Jika dibuat rata-rata, tingkat golput selama pelaksanaan Pilkada mencapai angka 27.9%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan pada Pemilu Legislatif, Pemilu Presiden Putaran I, dan Pemilu Presiden Putaran II. Meskipun tingginya angka golput menjadi gejala umum dalam Pilkada di banyak wilayah--- dan kemungkinan fenomena Golput ini juga akan menjadi gejala umum Pemilu Indonesia di masa mendatang----hingga saat ini belum ada penjelasan yang memadai apa yang menyebabkan seorang pemilih memilih golput.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merancang riset terhadap pemilih yang tidak ikut dalam pemilihan ( golput) ini. Riset ini bukan survei pra pemilihan. Riset ini dilakukan pada saat pemilihan. Responden diambil dari pemilih yang terdaftar dalam DPT ( Daftar Pemilih Tetap), tetapi tidak ikut memilih di hari pencoblosan. Riset ini menunjukkan paling tidak ada tiga alasan seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Pertama, alasan administratif----seperti tidak mendapat surat undangan, atau belum memperoleh kartu pemilih. Kedua, alasan individual atau teknis, seperti sedang bekerja, ada keperluan pribadi di saat hari pemilihan. Ketiga, alasan politis, yakni menganggap Pilkada tidak ada gunanya dalam meningkatkan kehidupan lebih baik. Riset ini menunjukkan, alasan yang sifatnya administratif dan teknis / individual menjadi sebab utama seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Klaim bahwa seseorang memilih golput sebagai bentuk protes terhadap penyelenggaraan Pilkada, tidaklah sebesar yang diduga selama ini.

Isi Kajian Bulanan edisi ini:

Golput Dalam Pilkada

Alasan yang sifatnya administratif dan teknis / individual menjadi sebab utama seseorang tidak ikut dalam pemilihan. Klaim bahwa seseorang memilih golput sebagai bentuk protes terhadap penyelenggaraan Pilkada, tidaklah sebesar yang diduga selama ini. Mengapa Fauzi Bowo Menang?

Golput: Seberapa Berdampak Bagi Perolehan Suara Kandidat?

Dalam Pilkada DKI Jakarta lalu, mereka yang golput lebih banyak memilih pasangan Fauzi Bowo-Priyanto dibandingkan Adang Darajatun-Dani Anwar. Bahkan (jikalau hasil survei golput ini akurat), perolehan suara pasangan Fauzi Bowo dan Priyanto lebih besar daripada saat ini. Pasangan ini diprediksikan akan mendapat suara 59.8% suara

Download buletin ini ke komputer:

kajian_bulanan_5.pdf