Konferensi Pers
Analisis Survei Nasional ( Oktober 2007)
Menjelang Tiga Tahun SBY-JK: Publik Mulai mencari Pemimpin Baru
05/10/2007 23:19Menjelang tiga tahun sejak SBY- JK dilantik menjadi presiden RI, terjadi perubahan public mood atau persepsi publik yang sangat signifikan. Ketika dilantik Oktober 2004, SBY, presiden pertama yang dipilih secara langsung, memperoleh tingkat kepuasan publik sangat tinggi (di atas 80%). Menjelang tiga tahun kemudian (September 2007), tingkat kepuasaan itu jatuh pada titik terendah 35.3%. Dalam waktu hampir tiga tahun, tingkat kepuasan atas SBY merosot sekitar 45%.
Lebih dari itu, sudah terjadi apa yang disebut ”mental switch” dalam politik. Lebih banyak publik yang mulai mencari figur baru untuk presiden 2009. Hanya di bawah 30% pemilih yang menginginkan SBY kembali menjadi presiden. Ini adalah lampu kuning yang keras sekali. Tanpa ada perubahan mendasar dari pemerintahan SBY dua tahun ke depan, pilpres 2009 akan menjadi pengadilan publik melalui pemilu yang pahit bagi SBY, sebagaimana 2004 bagi Megawati.
Demikianlah salah satu analisis dari hasil survei nasional terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI). Survei dilakukan tanggal 9-14 September 2007, di seluruh Indonesia, di tiga puluh tiga propinsi. Jumlah respon sebanyak 1200, wawancara tatap muka, dengan metodelogi multi-stage random sampling. Sampling error sekitar 2.9%.
Rendahnya tingkat kepuasan atas kinerja SBY merata di berbagai segmen. Pemilih di pulau Jawa lebih kecewa dibandingkan di luar Jawa (66.9% : 46.6%). Dua suku terbesar: Jawa dan Sunda juga kecewa ( 57%, 80.7%). Kalangan bawah dalam level pendidikan lebih banyak yang kecewa dibandingkan kalangan terpelajar (61%: 54.1%). Di antara pemilih partai, hanya pemilih partai demokrat yang memiliki kepuasan atas SBY di atas 50%. Sisanya, di kalangan pemilih partai besar lain, tingkat kepuasan atas kinerja SBY di bawah 50%.
Ada empat alasan mengapa tingkat kepuasan atas SBY jatuh pada titik terendah. Pertama, kekecewaan atas kinerja bidang ekonomi. Hanya 24% yang puas pada penanganan SBY atas situasi ekonomi. Sebesar 69.5% kecewa atas kondisi ekonomi secara umum, 68.5% kecewa dengan penanganan pengangguran, dan 64.9% kecewa atas penanganan kemiskinan.
Kedua, program primadona SBY mengalami degradasi. Selama ini pemberantasan korupsi di bawah pemerintahan SBY menjadi daya tarik SBY yang utama. Tak pernah terjadi sebelumnya, begitu banyak pejabat publik yang dijebloskan dalam penjara. Ini tak hanya menimpa gubernur di daerah, tapi juga mantan pejabat setingkat mentri. Namun program ini agak rusak karena meluasnya citra bahwa pemberantasan korupsi ini tebang pilih dan pilih kasih.
Sebanyak 66.1% yang merasa program anti-korupsi ini tidak adil (pilih kasih). Citra terbentuk seolah untuk tokoh yang dekat dengan kekuasaan, kasusnya diendapkan. Hanya 13.4% pemilih yang menganggap gerakan anti-korupsi SBY adil, dan semua kasus diperiksa, diperlakukan sama.
Ketiga, publik mulai meragukan kemampuan SBY menyelesaikan masalah bangsa. Masa bulan madu dengan pemerintahan SBY sudah lewat. Publik menilai kinerja tidak lagi di tingkat wacana tapi perubahan kongkret di lapangan yang disebabkan oleh program sistematis. Hanya 39.3% pemilih yang yakin akan kemampuan SBY menangani masalah bangsa.
Keempat, berjaraknya harapan dan kenyataan. Ketika terpilih, SBY mendapatkan harapan yang tinggi sekali. Kini, tiga tahun kemudian, hanya 24.1% pemilih yang merasa SBY sudah bekerja sesuai dengan harapan. Sebanyak 63.7% menyatakan SBY tidak seperti yang dulu diharapkannya.
Empat hal ini membuat publik mulai melakukan ”mental switch” mencari pemimpin baru. Sungguhpun pilpres 2009 masih dua tahun lagi, namun tingkat gairah publik mencari pemimpin baru sudah merekah. Hanya 29.3% yang menginginkan SBY terpilih kembali. Hanya 23.7% yang menyatakan memilih SBY kembali, sementara 46.4% menyatakan akan memilih calon lain di luar SBY.
Gegap gempita media dan publik atas deklarasi calon presiden belakangan ini adalah cermin dari public mood yang berakar di hati dan pikiran pemilih. Gerakan mencari pemimpin baru akan semakin meluas jika tingkat kekecewaan atas SBY tidak berkurang.
Siapakah pemimpin alternatif yang berpeluang? Banyak tokoh yang berkehendak. Namun ada lima tokoh yang dapat dimasukan dalam klasifikasi calon pemimpin alternatif 2009 kelas ”divisi utama.” Sebagian adalah insiders atau alumni pilpres 2004. Mereka adalah Megawati, Wiranto dan Jusuf Kalla. Sebagian lagi adalah outsiders atau pendatang baru. Mereka adalah Sri Sultan HamengkubuwonoX dan Sutiyoso.
Apakah SBY masih akan diperhitungkan di tahun 2009? Jika tak ada perubahan yang berarti, SBY akan mengulangi siklus Megawati: dipuja di awal, dan disingkirkan di akhir. Namun jika ada gebrakan besar di bidang kesejateraan rakyat, SBY kembali mempunyai peluang besar. Singkat kata, peluang SBY ditentukan dari kombinasi antara kemampuannya membuat sesuatu yang berbeda dua tahun ini di satu sisi. Di sisi lain, itu juga tergantung dari pesona pemimpin alternatif.
Reformasi ternyata sangat kejam dengan para presidennya. Tak ada satupun presiden di era ereformasi yang berakhir dengan gemilang. Habibie ditolak MPR. Gus Dur dipecat. Megawati ditolak di putaran kedua. SBY pun akan masuk dalam siklus yang sama kecuali jika ia membuat inovasi yang fenomenal.
Download File Ini ANALISA_SURVEI_NASIONAL_OKTOBER_2007-final_1.zip
