Akan Datang Era Indonesia tanpa Diskriminasi

“ANAK-ANAK itu tak mengerti. Ayah dan Ibu mereka meyakini paham agama yang berbeda. Anak-anak itu tidak memilih ayah dan ibu. Namun anak-anak itu ikut menanggung risiko menjadi pengungsi hanya karena paham agama ayah dan ibunya. Suatu saat akan datang. Era Indonesia tanpa diskriminasi.”

Kumpulan kalimat itu ditulis Denny JA dalam serial tweetnya di @DennyJA_WORLD. Saat itu ia merespons Tragedi Sampang yang baru saja meletus. Ini memang pertikaian internal keluarga tapi tetap punya dimensi perbedaan agama Sunni versus Syiah. Rumah dibakar. Banyak yang mengalami kekerasan. Ada yang mati. Setelah 67 tahun merdeka dan 12 tahun reformasi, masih terjadi kekerasan kepada sesama anak bangsa hanya karena perbedaan paham agama.

Denny JA membentuk lembaga. Ia beri nama Yayasan Denny JA untuk Indonesia tanpa Diskriminasi. Yayasan itu mengirim pendongeng dan bantuan lain untuk anak-anak pengungsi. Bersama Satgas Perlindungan Anak, Yayasan Denny JA menghibur, menyembuhkan, dan membangkitkan jiwa anak-anak melalui dongeng dan permainan. Sebelumnya ia bersama ANBTI juga membantu anak-anak pengungsi di Sampang dan di Mataram, NTB, merayakan hari proklamasi dan Lebaran. Walau merasa kurang dilindungi pemerintah, anak-anak ini tetap diajak memperingati bersama hari kemerdekaan. Di ujung acara, mereka diberi bingkisan Lebaran. Apakah Denny JA sedang alih profesi? Selama ini, ia dikenal sebagai pollster dan konsultan politik ternama. Hari-hari Denny JA biasa disibukkan dengan survei dan quick count pemilu. Tetapi Denny kini memulai aktivitas baru yang jauh dari hingar-bingar survei. Dia memelopori sekaligus aktif dalam gerakan “Indonesia tanpa Diskriminasi.”

“Ini the road not taken, jalan yang jarang diambil,” ujar Denny JA mengutip puisi terkenal Robert Frost. Saya melakukan ini karena memang passion dan visi saya. Jelas ini kegiatan yang tidak populer membantu minoritas yang mengalami diskriminasi. Ini punya risiko politik. Ini juga murni kegiatan amal karena saya mengeluarkan dana saya pribadi. Tapi ini penting untuk membangun peradaban Indonesia modern, argumen Denny JA.

Denny bercerita percakapannya dengan istrinya. Ia merasa tidak penuh jika hanya bekerja,membangun profesi baru dan mendapatkan rezeki besar. “Jika hanya itu, saya tidak akan mati dengan mesem,” ujarnya. “Saya ingin ada kontribusi yang sangat kental nuansa public interestnya. Saya ingin meneruskan apa yang menjadi obsesinya sejak menjadi aktivis mahasiswa dulu: Indonesia yang demokratis, yang melindungi semua warga negara apa pun identitas sosialnya. Denny memilih jalan budaya untuk mimpi ini.

Denny mulai merambah dunia sastra telah merampungkan beberapa karya budaya. Dia sudah merampungkan buku puisi esai ‘Atas Nama Cinta’ yang isinya 5 puisi berlatar belakang isu diskriminasi di masyarakat.

Kelima puisi esai itu adalah; Sapu Tangan Fang Yin yang mengangkat isu diskriminasi ras Tionghoa. Romi dan Yuli dari Cikeusik yang mengangkat isu diskriminasi pengikut Ahmadiyah di Cikeusik. Minah Tetap Dipancung yang mengangkat isu diskriminasi perlindungan terhadap wanita dan TKI di luar negeri. Cinta Terlarang Batman dan Robin yang mengangkat isu diskriminasi kaum homoseksual, serta Bunga Kering Perpisahan yang mengangkat isu diskriminasi perkawinan beda agama.

Puisi esai Denny bukan hanya diterbitkan dalam bentuk buku saja. Tetapi puisi itu juga disebarkan lewat social media. Puisi Denny dibacakan oleh para maestro seperti Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, Niniek L Kariem, Ine Febriyanti, Sudjiwo Tedjo- Fatin Hamamah dan dibuatkan video klipnya yang bisa disaksikan di Youtube.

Tak hanya buku dan video klip, isu diskriminasi yang disuarakan Denny lewat 5 puisi esainya juga difilmkan. Bersama sutradara film Ayat-Ayat Cinta, Hanung Bramantyo, Denny memfilmkan kelima puisi esainya itu dalam film pendek berdurasi kurang lebih 45 menit. Film itu mendapat sambutan yang antusias. Diputar di berbagai komunitas. “Pemerintah diwajibkan konstitusi melindungi segenap WNI. Pemerintah belum maksimal menjalankan kewajiban ini,” ujar Denny JA, karena terasa adanya “nuansa pembiaran” atas kekerasan diskriminatif di beberapa kasus belakangan ini.

Lihat Sumber : Media Indoesia hal.3 – 11 September 2012