Denny JA, Berpolitik Lewat Puisi?


Denny JA, Berpolitik Lewat Puisi?

Membawa Sastra Ke Era Sosial Media

Berita itu cukup membuat heboh. Hanya dalam waktu sebulan, sebuah buku puisi memperoleh HITS di web di atas sejuta. Ini belum pernah terjadi untuk sebuah buku puisi. Topik puisi tersebut masalah yang sangat sensitif: diskriminasi era reformasi.

Lebih heboh lagi penulisnya adalah Denny JA. Selama ini Denny JA dikenal bertangan dingin. Ia mampu mengubah riset ilmu sosial yang kering dan sepi kini basah (baca: makmur secara ekonomi), dan acapkali menjadi headline halaman satu koran nasional.

Apa juntrunganya tiba tiba ia menulis puisi? Ia baru saja mencatatkan rekor MURI sebagai buku puisi pertama di era sosial media. Hari ini HITS web nya di www.puisi-esai.com sudah di atas 1. 3 juta.

Mengapa menulis puisi? Mengapa baru sekarang?

Pada dasarnya saya seorang penulis. Interaksi saya dengan dunia sosial pertama kali justru lewat tulisan. Kerja saya sebagai penulis sekitar hampir dua puluh tahun (1986-2004). Saya sudah menulis lebih dari seribu kolom di semua media nasional. Semua kolom itu sudah diterbitkan menjadi 20 buku.

Namun memang sejak 2004 saya hijrah. Tidak lagi menulis. Saya berevolusi menjadi konsultan politik. Kini saya merasa saatnya terjadi regenerasi di dunia itu. Saya ingin kembali ke habitat saya semula, menjadi penulis. Bedanya tidak lagi dalam bentuk kolom biasa, tapi dalam bentuk sastra. Sekarang puisi esai. Besok menulis novel dan membuat film layar lebar.

Temanya cukup berat soal isu diskriminasi. Anda berpolitik lewat puisi?

Politik dalam pengertian berebut kekuasaan di pemerintahan melalui pemilu, jelas tidak. Tak bisa kita gunakan puisi untuk itu. Namun politik dalam pengertian mempengaruhi kesadaran publik, tentu saja tak terhindari. Saya tidak menulis puisi untuk puisi. Tapi puisi itu ditulis untuk ikut menjadi variabel yang mempengaruhi perubahan kesadaran.

Apa bedanya anda menulis dulu dan sekarang?

Dulu saya menulis sebagai hobi tapi sekaligus mencari nafkah (tertawa). Namun kini saya menulis benar –benar murni kerja budaya.

Saya bukan konglomerat. Namun alhamdulilah saya tak perlu mencari nafkah melalui kerja menulis. Sudah sekitar 10 tahun saya banting tulang mencapai financial freedom. Ke kantor saya hanya hari senin dan kamis saja. Selebihnya saya dedikasikan untuk kerja budaya, dengan menulis.

Apakah anda sudah pensiun dari konsultan politik? Dari bisnis? Tak lagi berpolitik praktis?

Ya, sudah pensiun dalam pengertian berhenti mengurus manajemen sehari hari. Namun soal politik praktis, kita tak pernah pensiun. Ujar Aristoteles, manusia itu adalah mahluk politik. Kerja politik praktis adalah bagian dari diri setiap orang yang terus dibawa sampai mati.

Apakah anda ingin disebut penyair?

Saya bukan penyair dan tak ingin disebut penyair (tertawa). Saya hanya ingin menjadi penulis saja. Berbeda dengan penyair dalam pengertian konvensional, saya kan juga akademisi, peneliti, politisi dan pengusaha (tertawa).

Lalu, mengapa kini memilih medium puisi?

Reformasi 1998 memang sudah merubah politik pemerintahan. Namun masih banyak yang tak berubah, terutama dalam konsep kesetaraan warga negara itu. Saya ingin mengekspresikan aneka isu diskriminasi yang masih terjadi. Saya ingin membuatnya diperhatikan publik dan pemerintah.

Namun medium tulisan yang saya idamkan adalah yang bisa menyentuh hati. Itu lebih bisa dituliskan dalam puisi. Tapi bukan puisi biasa, harus puisi esai.

Puisi esai? Apakah ini istilah yang anda ciptakan sendiri?

Ya, istilah itu adalah yang paling pas melabel jenis gagasan saya. Ia bukan puisi biasa. Ia bukan esai biasa. Ia puisi bercita rasa esai. Atau ia esai dalam bentuk puisi.

Apa ciri khas puisi esai?

Saya menyusun semacam platform puisi esai. Pertama, ia harus menyentuh hati dengan cara mengeksplor sisi batin, dan mengekspresikan interior psikologi manusia kongkret. Kedua, ia harus memotret manusia kongkret itu dalam suatu event sosial, sebuah realitas kongkret juga yang terjadi dalam sejarah. Tak terhindari sebuah riset dan juga catatan kaki menjadi sentral dalam medium itu. Ketiga, ia harus dituliskan dalam bahasa yang mudah dimengerti publik luas, tapi tersusun indah. Keempat, ia harus menggambar suatu dinamika sosial atau dinamika karakter pelaku. Tak terhindari medium itu menjadi panjang dan berbabak.

Diharapkan dengan membaca puisi esai, pembaca tak hanya tersentuh hatinya. Tapi ia juga belajar mengenai sepotong sejarah atau sebuah fakta isu sosial. Riset menjadi elemen penting puisi esai.

Bagaimana anda menilai puisi yang ada sekarang?

John Barr, pemimpin Foundation of Poetry dalam tulisannya American Poetry in New Century melancarkan kritik terhadap perkembangan puisi di Amerika Serikat. Menurut John Barr, puisi semakin sulit dipahami publik karena publik luas merasa semakin berjarak dengan dunia puisi. Para penyair asyik masyuk dengan imajinasinya sendiri dan mereka semakin terpisah dan tidak merespon persoalan yang dirasakan khalayak luas.

Pandangan saya kepada puisi di Indonesia sekarang ini sama seperti John Barr.

Anda kan peneliti? Anda juga melakukan riset mengenai puisi sekarang?

Saya sendiri pernah melakukan riset terbatas mengenai puisi yang berkembang di Indonesia di tahun 2011.

Cukup mengagetkan, bahkan mereka yang tamat pendidikan tinggi sekalipun tidak mengerti dan tidak memahami apa isi puisi tahun 2011 yang dijadikan sampel itu. Mereka menilai bahasa dalam puisi ini terlalu menjelimet. Jika bahasanya saja tidak dimengerti, mereka juga sulit untuk tahu apa yang ingin disampaikan puisi itu.

Bagaimana opini responden? Mengapa menurut mereka banyakk puisi saat ini bahasanya sulit dimengerti pembaca?

Komentarnya beragam. Yang lebih toleran berkomentar bahwa puisi itu sama seperti lukisan. Ada lukisan realis yang mudah dipahami.

Yang sinis menyatakan, itu karena (bahasa diedit) “penyair masa kini hanya sibuk dengan imajinasi dan kesepiannya sendiri.

Anda sendiri toleran dengan perbedaan genre atau ekspresi puisi?

Saya toleran 1000 persen. Saya konsisten. Saya toleran keberagaman di dunia sosial dan di dunia puisi. Ini memang era kebebasan berekspresi. Keberagaman tak terhindari dan hadir di semua wilayah. Mulai dari agama, ideologi, sampai pada kesenian, selalu hadir spektrum warna warni.

Anda yakin puisi esai ini genre baru dalam sastra?

Genre baru? Itu bukan urusan saya lagi. Di bawah langit di era sekarang memang tak ada apapun yang sepenuhnya baru. Namun ramuan empat kriteria puisi esai di atas memang saya “masak” sendiri secara orsinil. Catatan kaki yang khas di puisi itu adalah layaknya seperti catatan kaki sebuah makalah ilmiah. Ia menggabungkan fakta dan fiksi.

Buku puisi esai juga hadir di versi online, apa tujuannya?

Ini era sosial media. Dunia gagasan dan tulis menulis harus pula meresponnya. Di samping versi cetak, buku puisi esai juga dibuatkan versi web resminya di www.puisi-esai.com sehingga dapat diakses dari handphone dan twitter sekalipun.

Yang saya tak duga adalah sambutan publik atas puisi esai itu. Di web resmi www.puisi-esai.com, hitsnya melampaui sejuta dalam waktu kurang dari sebulan.

Rencana buku puisi esai ini selanjutnya?

Puisi esai ini akan terus berkelana. Saya sendiri sedang menulis novelnya. Dalam bentuk visual, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, membuat video klip pembacaan puisinya. Hanung Brahmantyo juga merencanakan membuat film layar lebar. Jika semuanya lancar, ini puisi pertama yang dibuat ke dalam film layar lebar.

Akankah puisi esai itu menjadi movement seperti sastra kontekstual Arif Budiman tempo lalu?

Seharusnya demikian. Sudah lama sastra kita adem ayem. Perlu juga gebrakan agar terjadi kembali debat, dialog, sinerji. Semua dialog itu menyehatkan. Namun dialog memerlukan gebrakan dulu.

Apakah seterusnya ada menjadi penulis? Tak ingin menjadi presiden?

(Tertawa). Ada sebuah ungkapan. “A politician is a guess of history, but a man of culture is a host of history.” Mereka yang melakukan perubahan budaya akan memiliki efek politik lebih besar daripada politisi sendiri. Budayawan sebenarnya politisi juga tapi politisi yang lebih mengubah filsafat hidup warga. Budayawan itu jenis politisi yang justru lebih berpengaruh. (tertawa).***

sumber : Media Indonesia , 11 Mei 2012 Hal.4