Profile Denny JA

Denny JA Denny JA Denny JA
Denny JA Denny JA Denny JA
Denny JA Denny JA
Denny JA

Denny Januar Ali, atau nama populernya: Denny JA (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 4 Januari1963; umur 49 tahun) adalah intelektual enterpreneur atau enterpreneur intelektual. Ia banyak membuat tradisi baru dan rekor di dunia akademik, politik, media sosial, sastra dan budaya di Indonesia.[1]

Latar Belakang

Sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA), Denny JA menggemari buku Michael Heart: The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History (1978). Kepeloporan aneka tokoh sejarah itu mengilhaminya membuat aneka tradisi baru. Dalam perjalanan karirnya, semangat kepeloporan menjadi engine dan need for achivementnya.[2]

Di dunia akademik, Denny JA mendirikan Lembaga Survei Indonesia (LSI, 2003) Lingkaran Survei Indonesia (LSI, 2005), Asosiasi Riset Opini Publik (AROPI, 2007), serta Asosiasi Konsultan Politik Indonesia (AKOPI, 2009). Melalui empat organisasi ini, Denny JA dianggap founding father tradisi baru survei opini publik dan konsultan politik Indonesia.[3] Ia mendirikan empat institusi penting itu sekaligus menjadi pimpinan tertinggi periode pertama.

Denny JA mempopulerkan tradisi ilmu sosial kuantitatif yang mampu memprediksi kemenangan calon pemimpin dalam pilkada atau pemilu Indonesia, sejak 2004.[4] Beberapa kali ia bahkan mengiklankan prediksinya di media nasional sekitar 10 hari sampai sebulan sebelum pemilu/pilkada.

Yang paling menghebohkan, ia memprediksi pemenang pemilu presiden 2009 sebulan sebelumnya. Calon Presiden SBY, prediksi Denny JA, akan menang satu putaran saja. Prediksi itu ia iklankan secara massif di koran dan TV nasional. Prediksinya menjadi wacana paling hangat dalam pemilu presiden 2009.[5] Bahkan prediksi ini menjadi bahan debat resmi calon presiden yang disiarkan aneka TV nasional. Prediksinya akurat. Denny JA dianugrahi News Maker of Election 2009 oleh Persatuan Wartawan Indonesia. [6]

Di dunia politik (2004-2012), Denny JA diberi label king maker. Ini berkat perannya membantu kemenangan presiden dua kali (2004, 2009), 23 gubernur dari 33 propinsi seluruh Indonesia dan 51 bupati/walikota.[7] Ia memenangkan semua pemilu presiden langsung yang pernah ada. Ia memenangkan lebih dari 60% gubernur seluruh Indonesia. Melalui enterpreneurshipnya, ia membuat konsultan politik menjadi profesi baru, yang berpengaruh.[8]

Kontrak pertama dibuatnya dengan partai politik (Golkar) pada bulan Febuari 2005. Denny JA dengan LSInya membantu pemenangan pilkada Golkar di seluruh Indonesia. Kini hampir semua partai politik besar menggunakan jasa survei opini publik dan konsultan politik.[9]
Di dunia aktivis mahasiswa, Denny JA pun dikenal sebagai entrepreneur dan founding father kelompok studi mahasiswa di tahun 80-an. Kelompok Studi Proklamasi (1984-1989) yang dirikan dan dipimpinnya, ia samakan dengan kelompok studi mahasiswa di tahun dua puluhan era Bung Karno dan Bung Hatta. [10]

Menurut Denny JA, Bung Karno dan Bung Hatta mendirikan kelompok studi di tahun 20an, ketika kolonial Belanda sangat represif. Tidak melawan secara frontal, Bung Karno dan Bung Hatta melawan secara intelektual, dengan menggali dan mensosialisasikan ideologi modern. Saat itu ideologi yang paling radikal adalah nasionalisme. Di tahun 80an, menurut Denny JA, Presiden Suharto juga dipuncak represinya. Tidak melawan secara frontal, sebagaimana Bung Karno dan Bung Hatta, Denny JA dan kawan-kawannya menghidupkan tradisi intelektual melalui kelompok studi mahasiswa.[11]

Sebagai aktivis, Denny JA juga membuat hits ketika ia mematahkan pasal dua undang-undang . Yaitu UU Pemilu Legislatif 2009 dan UU Pemilu Presiden 2009. Dua kali Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugataan Denny JA yg bertindak selaku ketua umum asosiasi lembaga survei (AROPI). Pasal yang membatasi kebebasan akademis, seperti larangan mengumumkan quick count di hari pemilu dan survei di hari tenang, dibatalkan Mahkamah Konstitusi. [12]

Di dunia sosial media, Denny JA mendapatkan rekor MURI karena akun twiternya, @DennyJA_WORLD. Akun ini diakui sebagai akun pertama yang membawa pemilu ke era sosial media. Melalui akunnya, publik dapat mengikuti quick count dari mobile-phone, yang diup-date setiap 10 menit. Hanya 4 jam setelah TPS ditutup, melalui akunnya, publik sudah mengetahui siapa pemenang pemilu.[13] Pilkada gubernur Aceh di tahun 2012 menjadi awal quick count di sosial media.

Akun twitter Denny JA mampu menarik follower di atas sejuta. Ini merupakan follower tertinggi di Indonesia untuk intelektual/aktivis/politisi di tahun 2012.[14]

Di dunia sastra dan budaya, Denny JA juga melakukan kepeloporan atau entrepreneurship. Ia memperkenal genre baru puisi esai.[15] Ini sebuah puisi yang sangat panjang, berbabak, dengan catatan kaki, dan bahasa yang mudah mengerti. Puisi esai mengangkat isu sosial. Puisi esai ditulisnya sebagai reaksi atas puisi dengan bahasa rumit, yang membuat puisi semakin terisolasi dari publik luas.

Ia juga mendapatkan rekor MURI di dunia sastra karena yang pertama membawa sastra ke era sosial media. Buku puisinya, Atas Nama Cinta (2012) menjadi buku pertama yang bisa diakses melalui akun twitter dan smartphone. Hanya dalam waktu kurang dari sebulan, HITs websitenya di www.puisi-esai.com, sudah di atas sejuta. [16] Dalam waktu kurang dari enam bulan, HITSnya melampaui 4 juta. Ini belum pernah terjadi di buku umum sekalipun. Apalagi di buku sastra. Apalagi buku puisi.[17]

Ia meluaskan minatnya di dunia seni, dengan juga membuat naskah drama, novel dan film[18]. Aneka film yang diproduksinya diputar di aneka komunitas gerakan sosial. Denny JA memilih karya budaya untuk menyentuh hati, menyampaikan aneka pesan sosial.[19]

Sejak tahun 2012, Denny JA aktif dalam gerakan anti-diskriminasi. Ia mendirikan Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Yayasan ini bergerak mempublikasi aneka karya budaya: puisi, teater, lagu, foto, lukisan dan film, untuk menularkan gagasan modern: equality dan perlindungan hukum warga negara, apapun identitas sosialnya.[20]

Ketika terjadi tragedi Sampang (2012), Yayasan Denny JA bersama Satgas Perlindungan Anak, mengirimkan team pendongeng memberikan semangat kepada anak-anak korban yang menjadi pengungsi. Ujar Denny JA, Anak-anak biasanya riang. Namun kini mereka menjadi pengungsi. Mereka terusir dari kampung halaman. Mereka menyaksikan kekerasan atas orang yang mereka cintai. Mereka tidak memilih lahir dari orang tua yang memiliki paham agama itu. Hanya karena orang tua memiliki paham agama berbeda, puluhan anak-anak yang tak mengerti itu celaka. “Suatu kelak akan datang, era Indonesia Tanpa Diskriminasi.”[21]

Denny JA juga mendirikan Yayasan Abad Demokrasi yang didedikasikan mempopulerkan interpretasi agama Islam untuk demokrasi. Yayasan ini memiliki library online: memuat aneka informasi Islam dan Demokrasi. Aneka jurnal internasional diringkas. Aneka buku strategis yang sudah tak beredar soal Islam dan Demokrasi dibeli hak royaltinya. Buku itu diterbitkan online untuk bisa diakses publik secara gratis.
Yayasan ini menampung Komunitas Ciputat School, untuk berkumpul sebulan sekali, menggali kajian Islam untuk Demokrasi. Web Islam dan Demokrasi ini bisa dilihat di www.abad-demokrasi.com.

Aneka kegiatan sosialnya ia biayai sendiri. Berbeda dengan tradisi intelektual sebelumnya, Denny JA justru menganjurkan Intelektual harus kaya raya. Karena dengan berkelebihan secara ekonomi, Intelektual mampu membiayai sendiri kegiatan sosialnya dan tidak tergantung pada kekuatan politik lain. Ia mempopulerkan istilah intelektual enterpreneur dan enterpreneur intelektual. Denny JA pun menjadi pengusaha, mulai dari properti, food and beverage, konsultan sampai tambang.

Pendidikan

Denny JA menyelesaikan pendidikan strata satu di (Universitas Indonesia) Jurusan Hukum pada tahun 1989, gelar Master of Public Administration (MPA) diperolehnya dari (Universitas Pittsburgh) Amerika Serikat pada tahun 1994, sementara itu gelar Ph.D dibidang Comparative Politics and Business History didapatkan dar (Ohio State University) pada tahun 2001.

Karier

Selain sebagai kolumnis di sembilan surat kabar nasional (1986-2005), Denny JA mulai mengawali karier sebagai Direktur Eksekutif Universitas Jayabaya Jakarta pada tahun (2000-2003). Ia juga dipercaya menjadi host untuk program politik di Metro TV dan Radio Delta FM pada tahun (2002-2004). Kariernya kemudian mulai merambah dunia survei dan konsultansi politik. Pada tahun 2005 sampai sekarang Denny JA menjadi Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebuah lembaga penelitian dan konsultan politik pertama berskala nasional yang berada di Indonesia. Saat ini Denny JA juga tercatat sebagai anggota WAPOR (World Association for Public Opinion Research) untuk periode 2007 sampai sekarang dan Ketua Umum AROPI (Asosiasi Riset Opini Publik Indonesia) untuk periode 2007 – 2010, dan 2010- 2013.

Di tahun 2012, Denny JA berkecimpung dalam dunia yang luas: akademik, politik, dunia usaha, sasta-budaya, media sosial, dan charity. Di bidang yang ia tekuni, acapkali Denny JA membuat tradisi baru dan kepeloporan.[22]

Kehidupan pribadi

Denny JA menikah dengan Mulia Jayaputri dan dari pernikahan ini dianugerahi dua orang anak laki-laki, Rafi Moeslim Auliya Denny dan Ramy Bary Denny. Di kalangan kawan dekat, Denny JA dikenal sebagai “family man.” Ia acapkali mencari waktu untuk dilewati bersama dengan istri dan anak-anaknya.[23]

Buku dan karya
Atas Nama Cinta, Sebuah Puisi Esai, Genre Baru Sastra (Rene Book, 2012)
Democratization From Below, Protest Events and Regime Change in Indonesia 1997-1998, Ph.D thesis form Ohio State University, United States Penerbit: Pustaka Sinar Harapan, 2006
Manufer Elit, Konflik dan Konservatif Politik Opini di: Koran Tempo, LKiS, 2006
Memperkuat Pilar ke Lima (Pemilu 2004 Dalam Temuan Survei LSI, LKis 2006
Para Politisi dan Lagunya Kumpulan Kolom: Rakyat Merdeka, Sindo, LKis2006
Catatan Politik ( Denny JA, LKis ) , 2006
Jatuhnya Soeharto dan Transisi Demokrasi Indonesia ( Denny JA, LKis ) , 2006
Various Topics in Comparative Politics ( Denny JA, LKis ) , 2006
Membangun Demokrasi Sehari-hari Opini: Media Indonesia, LKis, 2006
Partai Politik pun Berguguran Opini : Republika, [[LKis], 2006
Visi Indonesia Baru Setelah Reformasi 1998 ( Denny JA, LKis ) , 2006
Membaca Isu Politik ( Denny JA, LKiS ) , 2006
Politik Yang Mencari Bentuk Kolom: Majalah Gatra, [[LKiS}, 2006
Jejak-Jejak Pemilu 2004 Talk Show Denny JA dalam Dialog Aktual : Radio Delta FM, [[LKiS] 2006
Napak Tilas Reformasi Politik Indonesia Talk Show Denny JA dalam Dialog Aktual Radio : Delta FM , [[LKiS], 2006
Parliament Watch Eksperiment Demokrasi : Dilema Indonesia Talk Show : Metro TV, Pustaka Sinar Harapan, 2006
Melewati Perubahan, Sebuah Catatan Atas Transisi Demokrasi Indonesia Kumpulan Tulisan: Jawa Pos, Indopos, LKiS, 2006
Jalan Panjang Reformasi Opini: Harian Suara Pembaharuan, Pustaka Sinar Harapan, 2006
Demokrasi Indonesia, Visi dan Praktek Opini : Harian Kompas, Pustaka Sinar Harapan, 2006
Election Watch, Meretas Jalan Demokrasi Talk Show : Metro TV, Pustaka Sinar Harapan, 2006
The Role of Goverment, in Economy and Business ( Denny JA, LKiS ) , 2006
Gerakan Mahasiswa dan Politik Kaum Muda Era 80-an ( Denny JA, LKiS ), 2006
Penghargaan
Penghargaan atas prestasi dan kepeloporan riset ilmu sosial Indonesia dari Universitas Kristen Indonesia (UKI) 2011
Newsmaker of The Election Award 2009 Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia: PWI Jaya, 2009
Civil Society Award 2009 Penghargaan dari Majalah Forum Keadilan: Forum Keadilan, 2009
Life Achievmnet Award 2008 Penghargaan dari Majalah Biographi Politik, 2008
Penghargaan dari Masyarakat Ilmu Pemerintahaan Indonesia: MIPI, 2007
PKS Award An Award from Partai Keadilan Sejahtera for His Contribution on New Traditional for Nastional Politics, Through Public Opinion Polling: PKS, 2007
MO Award An Award form Mens Obsession (MO) Magazine for His Contibution on New Traditional for National Politics, Through Public Opinion Polling, 2006
Political Entrepreneur An Award from Rakyat Merdeka for His Contribution on New Traditional for National Politics, Through Hundred Researches in Vast Provincial Election District, Which Resulted in Surveys and Political Consultancies Become a Central Element in Provincial and District Election (Pilkada) from Aceh to Papua :, 2006
25 Indonesian Records (MURI) in the field of akademik, opini publik, konsultan politik, sosial media dan sastra
Referensi

[1] Lihat dua puluh lima rekor MURI yang ia peroleh di aneka bidang, seperti tercatat di www.LSI.Co.Id
[2]Proposal Penulisan Visiografi : Denny J.A, King Maker di Kancah Politik Indonesia, 2012

[3] Lihat Majalah Tempo Edisi 30 Juli-5 Agustus 2012 dan buku Fransiskus Surdiasis, Ulin Ni’am Yusron, Rusdi Mathari, “Enam Ikon Pembawa Tradisi Baru Jakarta: Sinar Harapan, hlm 91-126

[4] Ibid
[5]http://news.viva.co.id/news/read/63310-gerakan_pilpres_satu_putaran_denny_j_a_
[6] http://www.antaranews.com/view/?i=1247562146&c=NAS&s=POL
[7] Lihat www.LSI.co.id
[8] Lihat Tempo dan Frans Sudiarsis, ibid
[9] Frans Sudiarsis, ibid
[10] Visi Indonesia Baru Setelah Reformasi 1998 ( Denny JA, LKis ) , 2006
[11] ibid
[12] http://www.youtube.com/watch?v=jrIjQN1Qz0E
[13] Lihat http://dennyja-world.com/2012/04/pemilu-kini-di-era-social-media/
[14] ibid

[15] Denny JA: Atas Nama Cinta, Rene Book 2012
[16] http://www.lsi.co.id/detail_artikel.php?recordID=12
[17] Lihat http://dennyja-world.com/2012/04/, ibid
[18] ibid
[19]http://puisi-esai.com/2012/05/14/tragedi-mei-harus-dituntaskan/
[20] http://www.youtube.com/watch?v=2NTxLNDFdkc
[21] http://www.rmol.co/read/2012/08/29/76091/Denny-JA-Kirim-Tim-Pendongeng-ke-Sampang
[22] Majalah d’Maestro : Denny J.A, Man of Year 2007 , Desember 2007, hlm 18-29

[23] ibid