Kepercayaan Terhadap DPR Di Titik Terendah

Kepercayaan Terhadap DPR Di Titik TerendahMenjelang akhir 2015, kepercayaan publik terhadap para wakilnya di DPR berada pada titik terendah. Mereka yang percaya bahwa DPR bekerja untuk rakyat hanya sebesar 40 %. Sementara mereka yang percaya anggota DPR hanya bekerja untuk kepentingan diri sendiri atau kelompok sebesar 51.80 %. Rendahnya kepercayaan terhadap DPR merupakan sebuah ironi dari perjalanan demokrasi di Indonesia.

Bahkan saat ini kepercayaan terhadap DPR lebih rendah jika dibandingkan dengan kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara lainnya. Mereka yang percaya bahwa KPK bekerja untuk rakyat sebesar 74.9 %. Mereka yang percaya MK bekerja untuk rakyat sebesar 59.1 %. Mereka yang percaya DPD bekerja untuk rakyat sebesar 53.4 %. Mereka yang percaya Presiden bekerja untuk rakyat sebesar 81.5 %.

Demikian salah satu temuan survei Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA. LSI Denny JA kembali mengadakan survei opini publik menjelang akhir tahun. Survei ini bertujuan mengevaluasi kinerja lembaga-lembaga negara. Survei menggunakan multistage random sampling dengan 1200 responden di 34 propinsi di Indonesia. Margin of error survei ini adalah +/- 2.9 %. Kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview.  Survei ini didanai sendiri oleh LSI Denny JA.

Tingkat kepercayaan terhadap DPR saat ini bahkan terendah dalam 10 tahun terakhir. LSI Denny JA merekam dari waktu ke waktu tingkat kepercayaan terhadap DPR. Pada Oktober 2005, setahun setelah DPR Pemilu 2004, tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 56.0 %. Pada April 2006, tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 52.80 %. Pada September 2007, tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 51.70 %. Pada Januari 2009 tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 60.0 %. Pada Januari 2010, tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 64.70 %. Pada Desember 2010, tingkat kepercayaan terhadap DPR sebesar 62.30 %. Pada Oktober 2012, kepercayaan terhadap DPR sebesar 57.40 %. Dan pada Desember 2015, hanya sebesar 40 % yang percaya terhadap DPR.

Rendahnya kepercayaan terhadap DPR merata di semua segmen masyarakat. Baik mereka yang laki-laki maupun perempuan, mereka yang tinggal di kota maupun pedesaan, mereka yang berpendidikan tinggi maupun rendah, mereka yang “wong cilik” maupun yang menengah atas.

Jika dipetakan berdasarkan konstituen partai, mayoritas pemilih partai menyatakan tidak percaya terhadap DPR. Pemilih yang partainya tergabung dalam Koalisi Merah Putih (KMP) pun menyatakan tidak percaya dengan DPR. Misalnya Pemilih partai Demokrat yang percaya DPR bekerja untuk rakyat hanya sebesar 30.3 %. Pemilih partai Gerindra yang percaya DPR bekerja untuk rakyat hanya sebesar 28.5 %.

Dari hasil riset, LSI Denny JA menemukan ada 4 (tiga) alasan mengapa publik cenderung tidak percaya bahwa DPR bekerja untuk rakyat. Keempat alasan tersebut antara lain:

  • Pertama, publik menilai satu tahun kinerja DPR hasil pemilu 2014 tidak produktif. Produktifitas DPR ini dinilai dari pelaksanaan tugas-tugas utamanya terutama pembentukan Undang-Undang. Selama satu tahun masa kerja DPR sejak dilantik hanya 3 undang-undang yang berhasil diundangkan dari target prolegnas 2015 sebanyak 39 undang-undang. Produktifitas membuat undang-undang ini jauh jika dibandingkan dengan DPR sebelumnya (2009-2014). Dalam setahun pertama DPR periode 2009-2014 mampu menghasilkan 8 undang-undang. Bahkan jika dibanding dengan negara maju seperti Amerika maka produktifitas DPR jauh dibanding Kongres Amerika. Dalam setahun Kongres Amerika bisa mengesahkan 125-160 undang-undang.
  • Kedua, tendensi negatif pemberitaan media terkait kasus “papa minta saham” yang melibatkan pimpinan DPR. Sejak kasus ini mencuat ke publik, pemberitaan terhadap kasus “papa minta saham” cenderung negative.  Dari hasil analisis media yang dilakukan LSI Denny JA, sebesar 89.70 % pemberitaan media bernada negatif terhadap keterlibatan Setya Novanto dalam rekaman tersebut. Publik pun menanggapi secara sinis kasus ini. Kasus “Papa minta saham” yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto dinilai sebagai kasus yang merendahkan martabat DPR.
  • Ketiga, blundernya ketua DPR dalam aneka kasus yang menghebohkan publik. Selain kasus “papa minta saham”, ada sejumlah kasus yang dinilai juga merusak kredibilitas DPR. Kasus-kasus tersebut antara lain surat Ketua DPR untuk tagihan Pertamina, pertemuan Setya Novanto dan Fadli Zon dengan Donald Trump.
  • Sikap dua wakil ketua DPR, Fadli Zon dan Fachry Hamzah atas kasus Donald Trump dan Papa Minta Saham juga dianggap publik sebagai blunder dan politically incorrect.  Sikap dua wakil ketua DPR itu bukannya mengurangi sentimen negatif publik kepada DPR, tapi justru menambahnya.
  • Keempat, publik menilai Setya Novanto sudah menjadi beban dan problem bagi DPR bahkan bagi politik nasional. Sejumlah kasus menghebohkan yang melibatkan Setya Novanto sebagai Ketua DPR telah mencoreng citra DPR. Bahkan kehebohan kasus tersebut membuat politik nasional menjadi gaduh.

Breaking News: Setya Novanto memutuskan untuk mundur dari ketua DPR terhitung sejak tanggal 16 Desember 2015.  Ini perkembangan yang mengejutkan dan melegakan setelah publik disuguhkan aneka drama negatif dalam sidang MKD (Majelis Kehormatan Dewan) . Berdasarkan data dan perkembangan terakhir, LSI Denny JA memberikan empat rekomendasi sebagai berikut:

Pertama, jadikan mundurnya Setya Novanto dari ketua DPR sebagai momentum awal untuk mengubah kinerja DPR secara menyeluruh, terutama produktivitas dalam menghasilkan UU.

Kedua, pimpinan DPR yang baru pengganti Setya Novanto harus menghindari kesalahan Setya Novanto, seperti melakukan aneka lobi bisnis yang dapat membuatnya melanggar kewenangan ketua DPR

Ketiga,wakil ketua DPR Fadli Zon dan Fachry Hamzah perlu mengubah gaya kepemimpinannya agar lebih terkesan membela kepentingan publik. Sikap dua tokoh ini atas kasus Donald Trump dan Papa Minta Saham dianggap publik sebagai blunder.

Keempat, lebih bagus lagi jika DPR sebagai lembaga mengambil inisiatif kocok ulang pimpinan DPR agar terpilih pimpinan baru DPR yang lebih kompeten dan kredibel

Hasil Survei Lengkap DOWNLOAD Disini

Kamis, 17 Desember 2015

Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA

Narasumber       :  Adjie Alfaraby (0811.16.1414 / 0812.811.21696)

Moderator          :  Rully Akbar (0811.920.2601 / 0856.8049.040)

Tim Riset LSI       :

Adjie Alfaraby, Ardian Sopa, Ade Mulyana, Rully Akbar, Fitri Hari, Dewi Arum.