Paska Munaslub : Golkar Perlu Branding Baru?

Paska Munaslub : Golkar Perlu Branding Baru?Paska Munaslub dengan terpilihnya Setya Novanto (Ketum) dan Aburizal Bakrie (Ketua Dewan Pembina), bisakah Gokar berjaya kembali?   Mayoritas publik sebesar 64.5% menyatakan Golkar bisa bangkit lagi sejauh muncul dengan branding baru, dengan gagasan, program dan tokoh representatif Golkar ke publik yang segar dan menjanjikan.

Golkar pernah terpuruk ketika jatuhnya Orde Baru di tahun 1998. Namun karena pengalamannya, Golkar bisa bangkit lagi menjadi juara pemilu legislatif di tahun 2004. Golkar kembali terpuruk karena kisruh kepengurusan lebih dari satu tahun 2014-2016 lalu. Namun publik meyakini, karena pengalamannya  Golkar bisa bangkit lagi, sejauh Golkar tak hanya melakukan pergantian ketum dan kepengurusan saja. Untuk jaya lagi, Golkar perlu branding baru, roh baru, gagasan baru, strategi baru yang lebih besar ketimbang pergantian kepengurusan biasa.

Demikian salah satu temuan survei Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA. LSI Denny JA kembali mengadakan survei opini publik 2 – 7 Mei 2016, menjelang Munaslub Golkar. Survei ini bertujuan menangkap aspirasi masyarakat terkait babak baru Golkar paska munaslub. Survei menggunakan multistage random sampling dengan 1200 responden di 34 propinsi di Indonesia melalui Quickpoll. Margin of error survei ini adalah +/- 2.9%. Kami juga melengkapi survei dengan penelitian kualitatif dengan metode analisis media, FGD, dan in depth interview.  Survei ini didanai sendiri oleh LSI Denny JA.

Bagaimana solusi agar Golkar berjaya kembali? Hanya sebesar 12.8% publik yang meyakini solusinya adalah Golkar menjadi pemimpin oposisi yang konsisten. Hanya sebesar 7.9% yang meyakini solusinya adalah Golkar dipimpin oleh ketua umum baru yang tak bermasalah. Masalah Golkar kini memang lebih dari sekedar pengurus baru atau re-positioning di pemerintahan, tapi sebuah branding baru.

Mayoritas yang mengharap branding baru Golkar ini merata di semua segmen pemilih. Namun ia lebih kuat di segmen pemilih kota, pendidikan tinggi, ekonomi menengah atas. Mereka adalah segmen yang lebih punya akses terhadap informasi.

Pemilih Kota sebanyak 68,5% mengharapkan Golkar menampilkan branding baru. Untuk pemilih desa, sebanyak 62,6 % mengharapkan branding baru,

Pemilih dengan ekonomi menengah atas, mayoritas (66,6%) mengharapkan Golkar branding baru. Begitu pula dengan Pemilih kalangan terdidik, mayoritas (67,8%) menginginkan Golkar branding baru.

Dari hasil riset, LSI Denny JA menemukan konflik elit lebih dari setahun membuat Golkar terpuruk dalam empat hal. Keempat hal tersebut antara lain:

  • Pertama, dari dukungan publik: Golkar masih nomor dua namun semakin berjarak dengan pemenang pemilu 2014. Kita mencatat hasil pileg Juli 2014, PDIP mendapatkan 18.95% suara, dan Golkar di angka 14.75%. Sekarang, hasil survei terbaru LSI (Mei 2016) memperlihatkan dukungan terhadap Golkar turun di angka 10.8%, selisih sekitar 10% dengan PDIP yang berada diangka 21.5%. Memang Golkar masih di urutan kedua tetapi jaraknya semakin jauh. Golkar lebih dekat dengan posisi ketiga yaitu Gerindra yang berada diangka 9.8%, dan Demokrat di angka 7.5%. Partai lainnya masing-masing dibawah 5%. Tidak tahu/tidak jawab diangka 29.7%.
  • Kedua, Perolehan kemenangan pilkada 2015: Golkar yang biasanya unggul teratas, diatas 50%, kini terpuruk hanya di urutan 9, yang totalnya di bawah 30%. Ia tak hanya dibawah PDIP, tapi dibawah perolehan partai lain pula. Perolehan kemenangan pilkada serentak 2015 (dari Rekapitulasi Pilkada, LSI 2015) PDIP di 105 daerah (rangking 1), Gerindra di 87 daerah (rangking 2), Demokrat di 68 daerah (rangking 6), dan Golkar di 49 daerah (rangking 9).
  • Ketiga, Kegamangan Sikap Politik: pertama kalinya Golkar 2015 menjadi pemimpin oposisi (KMP). Namun sikap ini rentan di dalam, yang justru akhirnya menyeret Golkar dalam konflik berkepanjangan. Golkar akibatnya tidak kokoh sebagai pemimpin oposisi. Di sisi lain, Golkar juga belum menjadi bagian penting pemerintahan Jokowi.
  • Pemilih Golkar sendiri menginginkan Golkar kembali ke khitahnya sebagai partai yang berperan di pemerintahan. Hasil survei memperlihatkan, 70,5% menginginkan Golkar gabung ke pemerintah. 18.7% menginginkan Golkar oposisi, dan sisanya 10.8%  tidak tahu/tidak jawab.
  • Keempat, Golkar belum siap dengan alternatif pemimpin nasional untuk bersaing dalam pilpres 2019. Agar maksimal sebagai partai pengatur kebijakan, sebuah partai tak hanya harus menang dalam pemilu legislatif. Ia juga harus menang dalam pemilu presiden.

Praktis kini hanya PDIP dan Gerindra  yang punya stock kuat untuk capres: Jokowi dan Prabowo. Golkar selaku partai pemenang kedua belum siap. Jika Pilpres hari ini, sebanyak 45.5% menjawab akan memilih Jokowi sebagai presiden. 27.0% akan memilih Prabowo. Aneka calon lain dibawah 10% (SBY dan Megawati tidak di uji).

Empat langkah yang harus disiapkan Golkar jika ingin berjaya kembali:

  • Pertama, Bergabung dalam pemerintahan Jokowi dan mendapatkan kursi kabinet (sesuai dengan harapan pemilih agar Golkar kembali ke khitah, sebagai partai yang berperan di pemerintahan)
  • Kedua, Kembali berjaya di pilkada 2017, 2018 dengan kemenangan seperti sebelumnya >50%  (kembali ke era kejayaan  Golkar sebelum konflik kepengurusan)
  • Ketiga, Menyiapkan calon  presiden atau wapres yang kuat, dan segar. Praktis tak ada kader Golkar yang pernah menang dalam pilpres langsung sejak pemilu 2004. Tanpa calon Golkar menjadi presiden, Golkar tak lengkap mengendalikan pemerintahan.
  • Keempat, Menawarkan aneka program/agenda nasional, dan menampilkan elit baru Golkar yang segar untuk  menjadi branding baru Golkar.  Ini yang harus dirumuskan oleh pengurus baru di bawah Setya Novanto dan Aburizal Bakrie.

Mayoritas publik tetap meyakini Golkar mampu bangkit lagi, sesuai dengan pengalamannya, sejauh Golkar tampil dengan branding baru, dengan gagasan, program dan elit baru yang segar. Hanya pergantian kepengurusan tak cukup untuk membangkitkan Golkar kembali.

  • Rabu, 18 Mei 2016
  • Lingkaran Survei Indonesia – Denny JA
  • Narasumber       :  Ardian Sopa (0819.88.2020)
  • Moderator          :  Dewi Arum (0812.80382407)
  • Tim Riset LSI       :
  • Adjie Alfaraby, Ardian Sopa, Ade Mulyana, Rully Akbar, Fitri Hari, Dewi Arum.

Hasil Survei Lengkap Donloadi Link  INI